Setiap orang
beriman pasti akan di uji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Baik ujian kebaikan,
keburukan, kebahagiaan, kesulitan, kesempitan, kelapangan, dan lain-lain. Allah
SWT akan menguji hamba-Nya sesuai dengan tingkatan keimanan dan kemampuannya.
Nah,
terkadang kita masih suka bingung, apa dan seperti apa serta untuk siapa ujian,
musibah dan azab itu? Apakah orang beriman, jika melakukan kemaksiatan akan
mendapatkan azab Allah SWT atau musibah sebagai teguran? Mari simak
penjelasannya berikut ini:
1. Ujian
Ibtila’
adalah ujian yang secara bahasa berarti ikhtibar (penyelidikan) dan imtihan
(percobaan), baik berupa kesulitan maupun kesenangan, kebaikan maupun
keburukan. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ujian kepada manusia dengan
tujuan mengetahui siapa hamba-Nya yang bersyukur atas nikmat dan bersabar atas
kesulitan yang menimpanya.
Firman-Nya
dalam Surat Al-Anbiya ayat 35,
وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ
وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Kami akan
menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang
sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan,” (QS. Al-Anbiya:
35).
Firman Allah
dalam surat Al-A’raf ayat 168 yang artinya, “Dan kami coba mereka dengan
(nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk.” (QS. Al A’raf: 168).
Firman Allah
dalam Surat Al-Kahfi ayat 7 yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah menjadikan
apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah
di antara mereka yang terbaik perbuatannya,” (QS Al Kahfi: 7).
Ibnu Katsir
mengatakan bahwa, makna “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan
sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya),” artinya terkadang Allah menguji dengan
sesuatu yang tidak menyenangkan dan terkadang dengan berbagai kenikmatan. Hal
ini agar Allah mengetahui orang-orang yang bersyukur dari orang-orang yang
kufur, orang-orang yang bersabar dari orang-orang yang berputus asa.
Seseorang
terkadang sanggup bertahan di dalam keimanan saat mendapatkan kesulitan, akan
tetapi hilang imannya tatkala mendapatkan kesenangan. Ujian apapun yang Allah
berikan pada kita, bersyukur dan bersabarlah.
2. Musibah
Apabila ujian
dan cobaan itu bisa berbentuk kesenangan atau kesulitan, sedangkan musibah
biasanya berbentuk sesuatu yang tidak disukai. Musibah secara bahasa, identik
dengan teguran atau peringatan yang sudah menjadi ketentuan Allah, terjadi
karena kesalahan yαng kita perbuat.
Firman Allah
dalam surat An-Nisaa ayat 79,
مَّا أَصَابَكَ
مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ
“Apa saja
nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang
menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri,” (QS. An-Nisaa: 79).
Firman Allah
dalam surat Asy-Syura ayat 30,
وَمَا أَصَابَكُم
مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ
“Dan apa saja
musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu
sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu),” (QS.
Asy-Syura: 30).
”Demi yang
jiwaku berada ditangan-Nya, tidaklah seorang mukmin ditimpa kegalauan,
kesedihan, kepayahan bahkan duri yang menancap padanya kecuali dengannya Allah
akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya,” (Tafsir Al-Qur’an Al Azhim juz II
hal 363).
Orang-orang
yang bersabar ketika mendapat musibah dan menjadikannya sebagai upaya perbaikan
diri untuk lebih mendekat pada-Nya maka akan mendapat ampunan di sisi-Nya.
“(Yaitu)
orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa
innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat pengampunan dan rahmat
dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk,” (QS
Al Baqarah: 155-157).
3. Azab
Azab Allah
yang diberikan kepada orang-orang yang tidak berada di jalan Allah Subhanahu wa
Ta’ala, baik di dunia maupun akhirat.
وَلَنُذِيقَنَّهُمْ
مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَى دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
“Dan
Sesungguhnya kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia)
sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke
jalan yang benar),” (QS. As Sajadah : 21).
“Wahai
kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan
kalian menjadi jahat sehingga kalian ditimpa musibah (azab) seperti yang
menimpa kaum Nuh, kaum Hud, atau kaum Shalih. Sedang kaum Luth tidak (pula)
jauh (tempatnya) dari kalian,” (QS Hud: 89).
“Itulah
orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di
akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang
Telah mereka kerjakan.” (QS. Huud: 16). Allahu a’lam.[sm]

0 komentar:
Posting Komentar